|
Memahami Komunisme Bersama (a la) Gus Dur |
|
Ditulis oleh bana
|
|
Eksistensi komunisme atau marxisme-leninisme di Indonesia dan dunia merupakan kenyataan sejarah. Gus Dur persis mengamini komunisme sebagai paham yang harus dilihat secara utuh. Tidak boleh bopeng atau sepintas politis dan formal saja. Melalui artikel yang ditulisnya pada tahun 1982; “Pandangan Islam tentang Marxisme-Leninisme”, Gus Dur mengajak khalayak pembacanya mengkaji lebih rinci hubungan Islam dan komunisme.
Dilihat dari konteks geo-politik dan sosio-politik Indonesia saat itu, artikel ini mengajak umat Islam untuk mengerti dan memahami komunisme dengan jernih dan obyektif. Secara umum, Gus Dur membaca hubungan diametral-konfrontatif Islam vis a vis komunisme. Kemudian menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan keberhadapan tersebut. Baik secara politis maupun ideologis. Pada akhirnya, Gus Dur melihat adanya titik-titik persamaan -bukan titik sambung- keduanya dalam aneka dimensi.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
Quo Vadis Gerakan Mahasiswa? |
|
Ditulis oleh Arlian Buana Chrissandi
|
Gerakan mahasiswa di Indonesia diakui banyak pihak memiliki kekuatan yang hebat dalam menentukan arah bangsa. Namun dewasa ini, banyak pihak yang menilai gerakan mahasiswa tidak lagi murni berangkat dari idealisme. Gerakan mahasiswa sering ditunggangi kepentingan kelompok tertentu.
Tidak diragukan lagi kontribusi pemuda dan mahasiswa dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Begitu pula sumbangsih mereka dalam mengawal pelaksanaan pemerintahan. Sejarah mencatat berbagai peristiwa besar yang mendemonstrasikan heroisme pemuda. Sampai-sampai seorang Indonesianis, Ben Anderson, berani mengatakan “sejarah Indonesia adalah sejarah pemudanya”.
Gerakan Mahasiswa dalam Berita Dalam beberapa minggu terakhir, epik cicak vs buaya menjadi isu yang paling mendominasi pemberitaan media massa. Kemudian dilanjutkan dengan centurygate. Dan hampir setiap hari, media memberitakan beragam aksi massa dari berbagai organisasi kemahasiswaan.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Efektivitas Kontrol Student Goverment Terhadap Kebijakan Kampus |
|
Ditulis oleh Abdul Rahman Sutara EP
|
|
Jumat, 25 September 2009 00:00 |
“Sikap dasar Manusia adalah bertindak, dan bukan menjadi sasaran Bertindak. Hal ini memberi kita kekuatan untuk menciptakan keadaan” (Stephen R. Covey, Psikolog dari BringHam Young University)
Dalam tatanan sistem pemerintahan di sebuah Negara, terdapat beberapa lembaga-lembaga atau departemen yang selanjutanya disebut sebagai lembaga penyelenggara Negara. Tentunya pada masing-masing lembaga Negara terbagi dalam dua fungsi pokok, yakni; lembaga yang berfungsi sebagai pelaksana (implementasi program) dan lembaga yang berfungsi sebagai pengawas (controlling program).
UIN Syarif Hidayatullah, idelanya hanyalah sebuah perguruan tinggi yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya sebuah proses prektek belajar mengajar yang formal. Hanya saja, karena statusnya sebagai “perguruan tinggi” maka proses belajarnya tidak lagi melibatkan siswa melainkan “Mahasiswa”. Terkait dengan UIN Syarif Hidayatullah dan Mahasiswanya, terdapat sebuah pola prektek keilmuan dalam hal...
|
|
Selanjutnya...
|
|
Persepsi, Emosi, Intelegensi dan Memori |
|
Ditulis oleh Ahfadh F
|
|
Jumat, 11 September 2009 00:00 |
|
A. Persepsi
Persepsi adalah proses aktif dari manusia dalam memilah, mengelompokkan, serta memberi makna pada informasi yang di terimanya. Persepsi bukanlah hasil penjumlahan bagian-bagian yang diindera seseorang, tetapi lebih dari itu merupakan keseluruhan [the whole]. Teori Gestalt menjabarkan beberapa prinsip yang dapat menjelaskan bagaimana seseorang menata sensasi menjadi suatu bentuk persepsi. Dalam teori gestalt ada yang disebut prinsip “Figure and Ground”. Prinsip ini menggambarkan bahwa manusia, secara sengaja maupun tidak, memilih dari serangkaian stimulus, mana yang menjadi fokus atau bentuk utama [=figure] dan mana yang menjadi latar [=ground]. Kurt Koffka, Max Wertheimer, and Wolfgang Köhler. Merupakan tokoh dari teori ini yang menyimpulkan bahwa: “Seseorang cenderung mempersepsikan apa yang terlihat dari lingkungannya sebagai kesatuan yang utuh”. Contoh Kasus
|
|
Selanjutnya...
|
|
Jika Makan Siang di Warteg itu Bersama Presiden |
|
Ditulis oleh Abdul Rahman Sutara
|
|
Kamis, 27 Agustus 2009 00:00 |
“Sebuah renungan untuk para pemimpin”
"……..Hidup dan tinggal disebuah Negara yang besar dan kaya, berada dalam komunitas yang pantas dianggap mapan, karena usianya yang sudah puluhan tahun, ternyata belum mampu mejamin individu- individu yang berada didalamnya stabil. Dalam hal ini, tolak ukur sederhana stabilitas individu adalah kesejahteraan mikro; terpenuhi kebutuhan sandang, pangan dan memperoleh pendidikan setinggi-tingginya………."
Sudahkah negara ini, bersama elemen- elemen komunitas social yang ada didalamnya menjamin stabilitas setriap indivu yang berada didalamnya?. Apakah bentuk- bentuk pembangunan dinegara ini, telah memberikan jaminan dan harapan hidup (Life expectancy) kepada rakyatnya?.
Bagaimana dengan elemen kelompok social yang berada didalamnya, yang senantiasa memberikan kontribusi berupa gagasan dalam sudut pandang Makro untuk negaranya, namun secara tidak sadar membiarkan individu- individu “kecil” (kadernya) hidup menggelandang, bahkan...
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
|
|
Halaman 1 dari 4 |