|
Catatan Bedah Buku “Perawan” dan Diskusi Publik: “Sastra sebagai Media Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan” |
|
Ditulis oleh Arlian Buana Chrissandi
|
Tepat pukul sembilan, acara Bedah Buku ‘Perawan’ dan Diskusi Publik “Sastra sebagai Media Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan” secara resmi dimulai. Sejak sebelum acara dimulai, para peserta yang sangat antusias mengikuti diskusi ini sudah memenuhi tempat berlangsungnya acara.. Sampai-sampai ruangan tersebut menjadi sangat padat. Banyak peserta yang tidak kebagian kursi dan kemudian rela menyaksikan dari belakang tanpa kursi, baik dengan berdiri ataupun duduk lesehan. Bertempat di Ruangan Teater Lantai 2 Fakultas ekonomi dan Ilmu Sosial, acara ini terselenggara atas kerjasama BEM FEIS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, KOPRI PMII Cabang Ciputat, Rahima, Yayasan We Can Indonesia, Piramida Circle dan Ciputat School. Diskusi ini dibuka oleh moderator Abdullah Alawi (Pecinta Sastra dan Penggiat Kajian Piramida Circle). Alawi memulai dengan melemparkan wacana tentang cerita fiksi yang tidak sepenuhnya fiktif karena dapat ditemukan referensinya di dunia nyata. Bahwa fiksi...
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
Bahasa Daerah yang Terlupakan |
|
Ditulis oleh Ahfadh F
|
|
Selasa, 17 November 2009 22:42 |
"Sejauh ini, dari total 746 bahasa daerah di Nusantara, tercatat 300 diantaranya terancam punah"(Koran Jakarta, 09.06.2009). Itulah kutipan yang ada pada sebuah media cetak Jakarta, yang menggambarkan betapa kurangnya perhatian dari pemerintah dan warga di Negeri ini sendiri terhadap kekayaan budaya yang dimiliki oleh bumi Nusantara ini.
Upaya membumikan kembali bahasa daerah rupanya telah di galang pemerintah sejak tahun 2004,(Koran Jakarta, 09.06.2009). Pada waktu saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, di daerah tasikmalaya (MTsN Sukamanah), saya pernah mendapatkan mata pelajaran bahasa daerah (bahasa Sunda), tetapi pada saat itu memang harus di akui semangat untuk mempelajari bahasa daerah tersebut sangat kurang, di samping kurangnya minat para siswa/siswi terhadap bahasa daerah, kurikulum di sekolahpun mengalokasikan waktunya hanya sedikit untuk mempelajari bahasa daerah ketimbang mata pelajaran lainnya. Padahal saya masih ingat saat itu di sekolah dimana saya...
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Dana K.
|
|
Jumat, 23 Oktober 2009 00:28 |
|
Coba kau perhatikan Dinding itu pun punya mata yang mengawasi Gerak gerik hati kita Saat detak mendahului detik dan mata Menjadi nanar dalam bisu Dinding itu menjadi saksi Dengan mata yang tak pernah rabun dan terselip Debu dari musim panas berkepanjangan Dinding itu (mungkin telah biasa Melihat kita) menjadi puing 111106
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Implong Djeus Syafi’
|
|
Kamis, 17 September 2009 00:00 |
|
-di negeri batu- kera dilahirkan induknya disertai bulu tebal sekaligus sebagai selimut ketika dingin membekukan sumsum tulang kekeraannya
-di negeri batu- manusia DICETAK semau-maunya layaknya kue ulang tahun yang dipamerkan di instalasi mall dijajakan ke-elokan fisiknya, dijual kalau ada yang berminat tidak laku? diremukkan, dilumat bahkan tidak sedikit menjadi tumbal pemuja dan penunggu batu
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Dana K.
|
|
Senin, 14 September 2009 00:13 |
|
Adalah matahari yang mencumbuku Selepas kau bangun dan bergegas Pergi dari tempat ini Butir butir embun itulah yang menggerayangi tiap pori Sambil sesekali mencium ujung kulitku Kemudian lenyap sebelum sempat ku hela nafas Dan angin menidurkan ku Kembali di pangkuanmu 181106
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
|
|
Halaman 1 dari 3 |