| Tan Malaka Dibunuh |
| Ditulis oleh Redaksi Local Wisdom | |||||||||||||
| Minggu, 19 April 2009 00:00 | |||||||||||||
“merdeka 100%” adalah “kata kunci” untuk membedakan antara Tan Malaka dengan Soekarno dan Hatta. Kalimat yang lahir dari kesepakatan Persatuan Perjuangan (PP) yang didukung Jendral Soedirman ketika mengeluarkan semboyan “lebih baik dibom atom dari pada merdeka kurang dari seratus persen”.Perbedaan antara Soekarno dengan Tan Malaka bukan karena cara pandang yang berbeda dalam pembentukan negara, melainkan strategi yang jitu dalam memperoleh kemerdekaan, karena dari sini nasib sebuah bangsa akan ditentukan. Bagi Soekarno-Hatta, cara terbaik memperoleh kemerdekaan adalah melalui jalan diplomasi. Sedangkan bagi Tan Malaka, perundingan di atas meja tidak akan menghasilkan kemerdekaan yang hakiki sebab dalam perundingan ada ketentuan-ketentuan atau kesepakatan-kesepakatan yang tentunya tidak menguntungkan bagi pihak Indonesia. Sehingga yang dibutuhkan adalah perlawanan (perang) dari rakyat untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia. Terlepas dari itu, justru yang membuat penasaran bagi semua kalangan adalah misteri meninggalnya Tan Malaka. Sebab (bagi kebayakan orang), setelah membaca karya-karyanya maka kesimpulan yang lahir akan bermuara pada pertanyaan; bagaimana orang ini meninggal? kenapa meninggal? kalaupun meninggal di mana makamnya? atau ia dibunuh? Lalu siapa yang bunuh? Maka, buku yang berjudul Tan Malaka Dibunuh karya Yunior Hafidz Hery ini memberikan penegasan bahwa Tan Malaka memang dibunuh karena pikiranya yang selalu melawan. Buku ini tidak hanya “cantik” dan “menggoda” hanya dari judulnya, tapi di dalamnya terdapat kesimpulan bahwa “....tidak berlebihan jika dinilai Soekarno dan Hatta mengerti duduk-perkara terbuangnya nafas Tan Malaka, setidaknya sedikit. Mengetahui siapa yang membuang nafasnya pada 19 Februari lampau...Sepatutnya yang sedikit/banyak ini disuguhkan kepada mahkamah agung sejarah Indonesia. Demi keterbukaan kita sebagai bangsa, demi terbukanya kran kejujuran. semestinya soekarno dan hatta, atau pewaris-pewaris ajaran mereka yang mengeti seluk-beluknya, menuturkan kronologi terbuangnya nafas tan malaka, dengan lapang dada”. Artinya, penulis telah mengetahui siapa yang memerintahkan eksekusi Tan Malaka dkk. Selamat membaca... Judul Buku : Tan Malaka Dibunuh Penulis : Yunior Hafidz Hery Penerbit : Resist Book, Yogyakarta Tahun : Cetakan I 2007 Tebal : i-xxxvi +234 hlm
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |

“merdeka 100%” adalah “kata kunci” untuk membedakan antara Tan Malaka dengan Soekarno dan Hatta. Kalimat yang lahir dari kesepakatan Persatuan Perjuangan (PP) yang didukung Jendral Soedirman ketika mengeluarkan semboyan “lebih baik dibom atom dari pada merdeka kurang dari seratus persen”.