| Mengurai Duka di Tanah Leluhur |
| Ditulis oleh Tim Redaksi Local Wisdom | ||||||
| Rabu, 15 April 2009 00:00 | ||||||
Jalur Gaza yang menjadi titik fokus kacamata media dunia sebulan terakhir menjadikan Israel sebagai sasaran kecaman dunia. Serangan yang membabi buta kepada warga Palestina tentu saja sedemikian menyayat perasaan setiap manusia. Bahkan oleh para tentara sekalipun. Banyak orang kemudian terhanyut oleh reruntuhan yang dipenuhi oleh gaung pilu penderitaan rakyat Palestina. Namun bombardir yang tek berperi kemanusiaan ini terbukti tidak mengindahkan sama sekali seruan manusia seluruh dunia. Di tengah demonstrasi di berbagai penjuru bumi, mesin-mesin perang Israel terus merangsek menumbangkan setiap bangunan yang dilaluinya. Kekejaman mereka sama sekali tak terbendung oleh protes yang bagaimana pun. Israel tak pernah mengindahkan permintaan siapa pun untuk menghentikan pembantaiannya di Jalur Gaza awal tahun ini. Maka orang-orang pun kemudian beramai-ramai mengutuk mereka. Menyamakan mereka dengan Hitler, tokoh yang ingin mengenyahkan mereka dari muka bumi sekitar enam puluh tahunan yang lalu. Tak pelak, beberapa kelompok umat Islam semakin menemukan kebenaran yang mereka yakini selama ini. Yakni bahwa bangsa Israel (dan juga Nasrani) dianggap sebagai musuh Islam yang paling utama dan harus dienyahkan dari muka bumi. Namun apalah daya mereka saat ini, Israel telah menjadi monster yang sedemikian kuat yang siap menghadapi ancaman dari mana pun. Dan semua juga mengerti, di belakang Israel masih berdiri dengan kokoh negara-negara yang dahulu memfasilitasi pendirian negara mereka di Tanah yang diklaim sebagai “tanah yang dijanjikan” ini. Orang-orang pun beramai-ramai melupakan, mengapa mereka menjadi sedemikian brutal. Mengapa mereka menjadi monster simbol kejahatan yang tak mengenal ampun. Meski derita telah terjajar di hadapan langit, toh mereka tetap melanjutkannya seolah ingin menggelarnya hingga kolong terluar cakrawala. Hingga Tetes Terakhir Sementara itu, keadaan menjadikan rakyat Palestina muncul sebagai pahlawan heroik yang mempertahankan hak milik mereka dari cengkeraman kelompok lain yang lebih kuat. Karenanya, merekalah yang harusnya dilindungi dan dibela. Memang saat ini, bagaimana pun manusia seluruh dunia cenderung membela Palestina, karena merekalah yang menjadi korban saat ini. Namun benarkah demikan adanya? Bila ditilik dari perjalanan waktu hingga ribuan tahun ke belakang, bisa jadi mungkin kita akan berpikiran lain. Tulisan ini hanya berniat sekedar ingin mengingatkan, bahwa salah satu pemicu kekejaman Israel ini adalah keyakinan mereka atas hak “tanah yang dijanjikan” tersebut. Untuk memahaminya, mau tak mau kita harus memahami konflik ini hingga ribuan tahun ke belakang. Bukan berarti kita harus memahami kekejaman mereka, namun kita perlu mengerti bahwa beberapa hal menjadikan mereka berlaku demikian. Bagaimana pun juga, akar pokok pertikaian ini adalah perebutan tanah. Orang Israel mengklaim tanah Palestina adalah tanah mereka, dengan cara apa pun tanah ini harus dapat direbut dan dikuasai, tak peduli berapa nyawa pun haris dikorbankan. Sementara orang-orang Palestina juga demikian, karenanya, tanah ini harus dibela dan dipertahankan hingga titik darah terakhir, tak pernah terhitung berapa ribu nyawa lagi yang harus menjadi korban. Mengapa demikian? Sekali lagi, karena amsing-masing berkeyakinan itulah tanah tumpah darah mereka. Demikianlah perintah Tuhan harus ditegakkan. Anehnya, di Indonesia pertikaian ini umumnya justru dipahami sebagai pertikaian antar agama. Orang palestina yang beragama Islam sedang dibantai oleh orang Israel yang Yahudi. Toh anggapan ini juga tidak dapat dipersalahkan sepenuhnya. Memang demikianlah adanya. Akan tetapi jika kita bersedia menilik lebih dekat, tentu akan memahami bahwa keadaan tidaklah sepenuhnya demikian. Mimpi Israel yang Keterusan Yahudi adalah anak-anak keturunan Ibrahim yang memulai impian politik mereka sejak kelahiran Dawud (David) yang kelak mampu membunuh Jalut (Goliath) inilah simbol awal eksistensi bangsa Israel. Maka mereka pun beramai-ramai memimpikan Dawud sebagai tokoh pemberani, tanpa tanding yang bahkan mampu membunuh simbol kejahatan terbesar dalam sejarah bangsa mereka. Dan dari Dawud inilah lahir Sulaiman, seorang raja yang sedemikian agung, yang mampu membangun peradaban impian tak terkalahkan hingga ribuan tahun ke depan (Kingdom of Solomon). Pada zaman Sulaiman inilah, orang-orang Yahudi terus mengindentifikasikan diri mereka hingga saat ini. Pada saat bangsa Yahudi dikalahkan oleh Fir’aun dan seluruh rakyatnya ditawan serta dibawa ke Mesir sebagai budak, lahirlah Musa (Mouses). Seorang pahlawan yang membawa mereka kembali ke negerinya semula melewati Laut Merah yang kemudian menenggelamkan Fir’aun. Kembali ke negeri yang dahulu dibangun Ibrahim untuk mereka. Akan tetapi, rupanya Musa bukanlah pahlawan impian mereka. Musa tidak benar-benar sanggup membawa mereka kembali ke tanahnya dengan merdeka dan tanpa terusik oleh kekuatan mana pun. Berbagai kekuasaan sejak zaman itu selalu menghalangi mimpi mereka mewujudkan kembali kerajaan Sulaiman. Dari Parsi, Romawi hingga Kekuasaan-kekuasaan Islam selalu menghalangi eksistensi mereka sebagai sebuah bangsa. Menghalangi kebangkitan mereka untuk mewujudkan kembali kejayaan mereka di tanah bekas reruntuhan Kingdom of Solomon tersebut. Kenyataanya kini, tanah yang diberikan oleh sekutu setelah berakhirnya Perang Dunia II tidaklah seluas tanah yang mereka impikan semula. Sekutu pun harus berbagi rasa dengan bangsa-bangsa Arab lainnya yang juga telah memiliki ekstensi dan mengidentifikasikan diri dengan tanah impian bangsa Yahudi tersebut. Maka bangsa Yahudi hanya mendapatkan secuil tanah di pesisir Palestina utara sebagai imbalan bantuan kesuksesan sekutu meruntuhkan Turki Utsmani, kekhalifahan Islam terakhir. Jika Israel boleh menghitung, wilayah yang diberikan oleh sekutu pada waktu itu tertulah sangat tidak sepadan dengan mimpi mereka. Namun mau bagaimana lagi? Hanya itulah yang diberikan oleh sang pemenang perang. Bukankah kini bangsa Arab juga memiliki hak atas tanah mereka? Maka demikianlah, sebagai pemenang, sekutu sangat berkepentingan untuk tetap menancapkan kukunya di Palestina. Sementara Israel tetap menjadi duri dalam daging bagi bangsa-bangsa Arab di sekitarnya. Malangnya, Palestina saat itu, dan hingga saat ini adalah bangsa terlemah di antara bangsa-bangsa Arab lainnya. Maka Israel, sebagai salah satu kepanjangan tangan dari kejahatan sang pemenang, pun menjadikan palestina sebagai sasaran kekejaman mereka. Hanya palestinalah yang kini dapat dijadikan sasaran kejahatan tanpa memiliki potensi serangan balik yang cukup berbahaya bagi Palestina. Bahkan cacing pun menggeliat jika diinjak, maka Palestina pun membela dirinya. Dan demikianlah kita menyaksikan hingga sat ini. Israel menyerang Jalur gaza dengan alasan untuk melindungi rakyatnya dari lontaran-lontaran roket Hamas dari Jalur Gaza. Sementara itu Hamas juga menyatakan akan terus berjuang mengusir Israel dari tanah yang kini mereka juga memiliki hak untuk menempatinya. Maka semakin kuat Palestina bertahan dan melawan, tentu saja semakin hebatlah Israel akan menumpahkan kekejaman mereka di sana. Lalu siapakah yang paling diuntungkan? Tentu saja sang pemenang yang menempatkan Israel di sanalah yang bersorak. semakin Palestina bergolak, semakin amanlah mereka dari ancaman musuh-musuh yang yang sedang sibuk bertikai sendiri-sendiri itu. Nah dari sinilah mestinya kita bisa melihat dengan lebih arif. Bukankah mestinya kita terlibat dalam upaya untuk mendamaikan mereka? Bukannya semakin memperberat penderitaan bangsa Palestina dengan turut andil dalam menciptakan kekerhan? Jika kita hanya menyumbangkan kerunyaman pada pertikaian di Palestina, bukankah akan sama artinya dengan menyiramkan air garam ke dalam luka mereka? Sekali lagi, marilah kita turut menyumbangkan terciptanya perdamaian di bumi Palestina.[] * Artikel ini merupakan bagian dari hasil diskusi Redaksi Buletin Local Wosdom dengan Litbang PMII Cab. Ciputat
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |

Jalur Gaza yang menjadi titik fokus kacamata media dunia sebulan terakhir menjadikan Israel sebagai sasaran kecaman dunia. Serangan yang membabi buta kepada warga Palestina tentu saja sedemikian menyayat perasaan setiap manusia. Bahkan oleh para tentara sekalipun. 

