gototopgototop
Home » Buletin Local Wisdom » Teologi Pembebasan
 
Teologi Pembebasan
Ditulis oleh Syamsul Anwar   
Senin, 30 Maret 2009 00:00

 

Teologi PembebasanWacana Teologi Pembebasan pertama kali dipublikasikan oleh Gustavo Gutierrez, seorang pastor dari Peru yang menerbitkan buku Teologia de la Liberacion pada tahun 1971. Dalam pemaparannya, ia menggunakan metode pendekatan yang tak biasa dilakukan kalangan gereja ketika itu, yakni pendekatan marxis.
Teori marxisme meskipun dipandang banyak kekurangan dan mengandung “virus berbahaya”, namun bagi Gutierrez teori ini mampu berfungsi sebagai alat analisis yang dapat merekam dan mendeskripsikan keadaan tak adil dan praktek kekerasan yang melembaga di Amerika Latin.

Secara sederhana, apa yang dimaksud dengan paham Teologi Pembebasan sebenarnya adalah suatu usaha kontekstualisasi ajaran-ajaran dan nilai keagamaan pada masalah kongkret di sekitarnya. Dalam kasus kelahiran Teologi Pembebasan, masalah kongkret yang dihadapi adalah situasi ekonomi dan politik yang dinilai menyengsarakan rakyat.

Sejak depresi dunia pada 1930-an, perekonomian negara-negara di Amerika Latin begitu bergantung pada ekspor barang mentah ke Eropa dan Inggris. Sebaliknya, mereka mengimpor komoditas pabrik. Sesudah Perang Dunia II, harga barang-barang mentah jatuh di pasaran dunia. Akibatnya perekonomian negara-negara itu kacau. Mereka juga tak mampu mengimpor barang-barang pabrik. Untuk memenuhi kebutuhan barang pabrik di dalam negeri, negara-negara itu mencanangkan modernisasi dengan memacu industrialisasi atas bantuan negara maju. Mereka menerapkan sistem kapitalisme sebagai model modernisasi.

Namun karena mementingkan pertumbuhan ekonomi, industrialisasi telah menciptakan kesenjangan sosial yang begitu tajam. Kaum proletar —kelas buruh— tumbuh dengan cepat. Inflasi melambung, biaya hidup membubung. Ketidakpuasan meluas. Situasi politik menjadi tegang dan labil. Kudeta terjadi di mana-mana dan membuahkan pemerintahan diktator. Pada 1945, misalnya, kelompok militer di Brasilia menggulingkan pemerintahan sipil. Pada tahun yang sama, Kolonel Juan Peron menjadi penguasa tunggal Argentina, setelah mengudeta penguasa sebelumnya. Tahun 1948, Manuel Odria menjadi diktator di Peru. Dan penindasan terhadap rakyat terjadi hampir di seluruh belahan Amerika Latin.

 

Islam dan Teologi Pembebasan

Usaha Asghar Ali Engineer menerbitkan buku Islam And Liberation Theology: Essay on Liberative Elements in Islam tak lain karena ingin menggali kembali semangat revolusioner dalam diri masyarakat Islam yang terdapat dalam Al Qur‘an. Semangat ini didasari tiga sebab. Pertama, teologi Islam yang saat ini berkembang di masyarakat telah kehilangan relevansinya dengan konteks sosial yang ada, padahal teologi islam itu seharusnya bersifat kontekstual dan transedental. Kedua, teologi itu pasti mengalami demistitified dari apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh Islam. Ketiga- dan yang lebih penting- mengembalikan seperti semula komitmen Islam terhadap terciptanya keadilan sosio-ekonomi dan terhadap golongan masyarakat lemah.

Telah diketahui bersama bahwa sebelum datangnya Islam, kawasan Timur Tengah (Arab dan sekitarnya) telah mengalami periode kelam yang dikemudian hari disebut sebagai zaman jahiliyah. Zaman yang di dalamnya berbagai persoalan manusia bertemu; kemiskinan, perbudakan, pemasungan hak-hak perempuan, kesenjangan sosial-ekonomi dst.

Kelahiran Islam yang sebelumnya telah diramalkan banyak orang menjadi oase di tengah panasnya gurun. Kedatangan islam yang dibawa Muhammad SAW mulai mendapat tempat di hati masyarakat karena ia mampu memperbaiki sistem yang korup. Perubahan radikal diperlihatkan Nabi ketika dengan tegas melakukan perlawanan terhadap penguasa dzalim. Dengan membawa firman-firman Tuhan, Ia mulai menyusun strategi untuk membebaskan budak, memberikan kesejahteraan dan memberikan ruang terhadap hak-hak perempuan. Disamping itu Nabi juga melakukan perbaikan sistem ekonomi yang sebelumnya hanya dikuasai oleh para raja.


Agama Sebagai Pembebasan

Meskipun agama bersifat teologis dan sesuatu yang sakral itu tidak membaskan, namun dalam sejarah agama-agama dunia, justru kelahirannya sangat dinantikan. Yahudi, Kristiani dan Islam merupakan agama samawi yang turun untuk membebaskan manusia dari keterikatan, ketakutan dan perbudakan yang diciptakan oleh penguasa. Kelahiran Yahudi misalnya, adalah kelahiran atas keterputusasaan masyarakat terhadap kekejaman penguasa, begitu juga Kristiani dan Islam sendiri.
Kini ketika masyarakat dunia mengalami kehancuran dan terjadi perang atas nama agama, maka perlu dipertanyakan, bukankan agama lahir untuk membebaskan manusia? Wallahua‘lam

Comments
Add New Search
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
Home | Chat Room | Invite your friends | Twitter | Webmail | Mobile Version
__________________________
PMII Komfeis Blog Ahmad Makki UIN Jakarta Watch
http://everythingaboutcancers.blogspot.com/ http://cancer-ology.blogspot.com/ http://everythingcancers.blogspot.com/ http://studyofcancers.blogspot.com/ http://studyforcancer.blogspot.com/ http://studyforcancers.blogspot.com/ http://cancerallinone.blogspot.com/ http://answer-cancer.blogspot.com/ http://everything-cancer.blogspot.com/ http://everything-cancers.blogspot.com/
Copyright © 2008 PMII Cabang Ciputat, All Rights Reserved. Developed by Arthaloka