| MENCARI BIANG KRISIS EKONOMI GLOBAL |
| Ditulis oleh Nur Ahmad Satria | ||||||
| Kamis, 26 Maret 2009 07:00 | ||||||
|
Saat ini, Krisis demi krisis telah bermunculan. Namun, krisis sebelumnya ditangani hanya untuk menciptakan krisis berikutnya. Ini terjadi karena pemerintah (AS-Eropa) yakin pasar akan melakukan koreksi. Nyatanya pasar tidak melakukan koreksi dan terus bergerak liar. Akar Krisis Ekonomi AS adalah defisit anggaran AS yang terus meningkat, mencapai 415 miliar dollar AS. Defisit anggaran AS mencapai rekor terburuk yakni mencapai 438 miliar dollar AS untuk tahun anggaran 2008 yang berakhir 30 September. Menurut Kantor Anggaran Kongres, hal ini disebabkan oleh meningkatnya belanja pemerintah untuk pertahanan dan program lainnya serta menurunnya pendapatan karena krisis ekonomi (White House, U.S. Congressional Budget Office). Defisit itu selama ini dibiayai modal yang datang dari berbagai negara dan membuat AS mengalami peningkatan utang hingga mencapai 11,7 triliun dollar AS. Penumpukan defisit dan utang membuat kurs dollar AS makin anjlok. Sektor Keuangan dibiarkan beroperasi tanpa peraturan yang mengontrol atau mencegah praktik penipuan. Lembaga pemeringkat juga tidak mengingatkan secara seksama soal ambang batas pinjaman ke sektor properti, yang sejak 2003 sudah mencapai titik jenuh Pemicu krisis, atau sumbu dari bom waktu krisis keuangan, adalah pengucuran kredit ke sektor perumahan. Berbagai perbankan dari negara-negara turut mengucurkan kredit ke sektor perumahan di AS. Mendadak terjadi rentetan kebangkrutan, yang menjatuhkan bursa saham dan membuat sesama perbankan enggan untuk saling meminjamkan. Tragedi itu sebetulnya bersumber dari keyakinan yang sudah dihidupkan sejak lama: ekonomi tanpa regulasi dan internasionalisasi persaingan ekonomi. Ekonomi tanpa regulasi merupakan bendera yang menjadi jualan kaum liberal untuk meyakinkan semua pengambilan kebijakan ekonomi bahwa keterbelakangan ekonomi merupakan akibat praktik aktivisme negara. Inisiatif individu yang dipagari beragam regulasi membuat inovasi macet. Implikasinya, ekonomi menjadi stagnan akibat ketiadaan insentif. Karena itu, watak ekonomi “serba negara” yang anti inovasi itu perlu diakhiri melalui kebebasan tanpa batas agar muncul destruksi yang memicu kreativitas (Creative destruction, menurut schumpter). Munculnya lebaga keuangan/investasi di AS akhir abad ke-19 dan awal ke-20, seperti Lehman Brothers dan Merrill Lynch, merupakan buah destruksi kreatif itu. Sementara itu, internasionalisasi persaingan ekonomi merupakan kepercayaan lain yang tidak kalah spektakuler. Kaum liberal berpandangan: pemagaran persaingan ekonomi antar negara berarti melindungi praktik inefisiensi ekonomi yang digeluti oleh warga/firma suatu negara. Implikasinya, konsumen (di negara bersangkutan) ditutup peluangnya untuk mendapatkan barang/jasa yang lebih baik dengan harga murah. Demikian pula kesempatan produsan di suatu negara disumbat untuk mendapat sumber daya ekonomi lain (termasuk tenaga kerja) yang bermutu karena pergaulan ekonomi dengan negara lain dibatasi. Dua pilar ekonomi itulah yang secara perlahan dipraktikkan di semua negara, tidak terkecuali kawasan Amerika Latin dan Eropa Timur yang dulu kekeh dengan gagasan sosialisme, tragedi ini meskipun bermula dari AS akan tetapi dampaknya keseluruh penjuru dunia, hal ini diakibatkan dari sistem ekonomi kapitalisme global yang dianut hampir diseluruh dunia.
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |

Saya setuju dengan pendapat yang menyatakan, tidak akan pernah ada krisis ekonomi yang berulang dan sama persis kejadiaannya. Setiap krisis pasti memiliki karakteristik yang khas dan unik. Misalnya, depresi ekonomi dunia tahun 1930, pasti sulit dibandingkan dengan krisis financial yang terjadi tahun 2008, baik dari sisi kausalitas, besaran, maupun implikasinya. Meski demikian, kita bisa belajar dari krisis masa lalu sebagai bekal untuk menghadapi krisis terkini dan antisipasi pada masa mendatang.