|
RESENSI
TANGGUNG JAWAB intelektual. Inilah upaya yang dilakukan oleh penulis. Sebagai sebuah karya akademis, tentu penelitian ini memerlukan kerja keras yang tidak bisa dianggap mudah. Menelusuri beragam bahan-bahan; referensi sekadar mencari petunjuk data di lapangan, dokumen-dokumen yang berserak ria, menjadi hiburan untuk menggarap disertasi yang kini telah dipublikasikan menjadi buku. Post Tradisionalisme Islam; Wacana Intelektualisme dalam Komunitas Nahdlatul Ulama, demikian judul yang dipilih.
Dalam menelaah buku ini, paling tidak kita akan dihadapkan pada dua pertanyaan. Pertama, apa yang penulis inginkan dalam penelitian tersebut? Kedua, pendekatan apa yang penulis gunakan dalam menyelidiki NU dan intelektualisme Post-Tra? Dengan membaca buku ini, secara tidak sadar kita akan dibawa pada kenangan di mana sebuah pemikiran sungguh teramat menentukan perkembangan para penganutnya. Ini terlihat ketika penulis menjajaki dasar tradisi keagamaan yang diamalkan oleh warga NU, khususnya dalam tradisi pemikiran NU awal 1900-1926an. Teramat penting untuk menyingkap ketertinggalan yang terjadi di tubuh NU dari sisi pemikiran.
Pendekatan yang digunakan oleh penulis sangatlah rumit. Ini juga digunakan dalam penulisan disertasi Yudi Latif, tesis Radhar P. Dahana, dan penelitian Daniel Dhakidae tentang Cendekiawan dalam Negara Orde Baru. Lihat dan bandingkan. Sangat mutakhir pendekatan Foucaultian yang dijadikan sebagai metodologi dalam penulisan sejarah. Namun juga tampak jelas, dalam menduduki objek dengan teramat lentur serta tidak meniadakan pendekatan lain seperti analisis wacana.
Intelektualisme Post-Tra?
LATAR BELAKANG kelahiran gairah intelektualisme NU mempunyai landasan panjang dan dipengaruhi oleh beragam faktor. Keberhasilan Islam modernis dalam mengembangkan model lembaga pendidikan misalnya, turut mengilhami para Kiai Pesantren untuk mereformasi model pendidikannya. Karena saat itu, pesantren dianggap tidak modern, lambat, dan tidak akomodatif terhadap kemajuan zaman.
Seperti Pesantren Tebuireng, didirikan KH Hasyim Asyari misalnya telah mengadopsi sistem sekolah terutama dalam mempelajari al Quran sejak 1916. Dalam dekade berikutnya, paling tidak ada dua pionir yang memperkenalkan pembaruan pendidikan di pesantren ini, yaitu Kiai Muhammad Ilyas dan Kiai Wahid Hasyim.
Sejak 1950an, beberapa anak Kyai dan santri-santri mulai menempuh pendidikan tinggi dalam dan luar negeri. Pada saat yang sama, sejak 1951 ketika Departeman Agama dipimpin Kyai Wahid Hasyim, mendirikan lembaga pendidikan tinggi Islam yang dikenal dengan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) yang kemudian berkembang menjadi Institute Agama Islam Negeri (IAIN) pada 1960.
Pada perkembangan lebih lanjut, tekanan yang muncul karena rezim Neo Fasis ala orde baru membuka “jalan lain”. Beragam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam berbagai bidang berdiri. Khususnya dalam menyikapi persoalan keagamaan, berpengaruh besar pada generasi muda NU. Lembaga tersebut tidak hanya bergerak di bidang sosial-ekonomi, melainkan juga menciptakan kegairahan dalam memadukan beragam gaya pemikiran islam; seperti Hassan Hanafi, Muhammad Abed al Jabiri, Ashgar Ali Eingener, Arkoun, Ali Shariati yang progresif. Tampillah identitas yang dianggap stabil-esensialis menjadi kian luntur dan retak-retak.
Namun demikian, sejak tahun 70-an, juga mulai lahir kader NU yang aktif di LSM untuk mengembangkan masyarakat pedesaan dan dunia pertanian. Tidak hanya dalam dunia pemikiran saja, sehingga membuka kesempatan bagi generasi NU berikutnya berpartisipasi dalam diskursus intelektual yang terbuka di bermacam-macam medan.
Dalam kaitannya, seperti P3M yang berdiri sejak 1983, Lakpesdam (Lajnah Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, NU) berdiri 1985, beberapa waktu paska NU menyatakan diri khittah 1926, pada 1984. Tahun 90-an, jumlah LSM kian meningkat, ini dilatarbelakangi oleh semangat mengembangkan pemikiran Islam di generasi muda NU. Seperti LkiS di Yogyakarta, Desantara, ISIS di Jakarta, Ilham di Semarang, eLSAD di Surabaya, Avveroes di Malang, Incres di Bandung dan sebagainya.
Bagi siapa pun yang hendak mempertanyakan alam intelektualisme NU, maka Dr. Rumadi telah mendokumentasikannya dalam bukunya sebagai catatan berharga dalam sejarah pemikiran keagamaan di Indonesia. Tidak sekadar merangkum varian pemikiran Post-Tra di beberapa epistemic community di NU itu sendiri, kemudian mendokumentasikan, namun analisisnya juga renyah (lebih jelas, lihat hal; 27-105). Kalau pembaca masih belum puas pada hasil penelitian yang dilakukan penulis, maka sebaiknya pelajari dulu beberapa kali renungkan kandungan buku tersebut dan lanjutkan penelitian.
Gitu aja ko’ repot... [.]
*Penulis adalah Koordinator Litbang PMII Cabang Ciputat
|