| Menyimpan Sejarah, Mengajarkan Matematika |
| Ditulis oleh Moeza Karena | ||||||
| Rabu, 18 Maret 2009 07:00 | ||||||
|
RISALAH
Lahirnya Indonesia pada tahun 1945 sebenarnya merupakan periode transisi dari masa perbudakan menuju masa pembebasan. Bukan sebagai Periode yang menjadi landasan awal lahirnya bangsa Indonesia. Kemerdekaan tahun 1945 adalah jilid ke III atau bisa disebut sebagai renkarnasi dari kerajaan-kerajaan terdahulu. Kemerdekaan yang ditandai dengan pembacaan teks Proklamasi oleh Ir. Soekarno adalah usaha membangun kembali tatanan masyarakat yang sebelumnya berserakan, bukan melahirkan apalagi membentuk bangsa baru. Tidaklah wajar dan salah besar jika bangsa yang mendapat titihan para dewa yang pada masa lalu mampu menguasai seperempat daratan Asia ini, tiba-tiba runtuh hanya karena serangan peradaban kecil. Bangsa yang seharusnya disandingkan dengan peradaban-peradaban besar dunia dipaksa tunduk terhadap negara-negara yang baru lahir atas inisiatif bangsa lain. Strategi kolonial menempatkan bangsa Indonesian sebagai wilayah yang harus diatur, ditata, sesuai dengan literature-literatur mereka hingga lahirlah generasi lemah, bodoh sekaligus miskin! Inilah proyek panjang kolonial ketika genjatan senjata tidak lagi diperkenankan. Strategi itu memang tidak bisa dibaca karena sejarah bangsa Indonesia hanya mengenalkan pada sosok Soekarno, Hatta dan Syahrir dengan pertarungan politik yang lebih kental terlihat. Sejarah Nasional Indonesia yang tertulis dengan “cetakan modern” tidak bisa mengali peradabannya lebih dalam. Hal ini berbeda ketika kita menyaksikan sejarah peradaban lain; Yunani, Tingkok, Mesir, Persia, India, yang mampu mengajarkan pada turunannya hingga ke relung-relung peradaban. Sejarah kita tidak sanggup menjadi mantra untuk membangkitkan arwah leluhurnya (sebagaimana kredo kaum Yahudi). Sejarah Indonesia tidak mampu mengakui kecerdasan bangsanya dan lebih percaya pada bangsa lain untuk menampilkan kepada anak negeri. Padahal, dalam catatan (perjalanan) orang Tiongkok, Indonesia yang oleh mereka menyebutnya sebagai wilayah She-p`o (Jawa) dan Yeh p`o-t`I (Sumatra dan sekitarnya) telah mengalami kejayaan yang luar biasa, bahkan dari perjalanannya, penduduk Tiongkok mengakui kalau mereka banyak belajar dari orang-orang nusantara (Sejarah Nasional Indonesia). Jika demikian besarnya, lantas dimanakah sejarah kita disimpan? Menggugat Sejarah 28 0ktober kemaren, bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, masyarakat Indonesia terutama kaum muda “dipaksa” untuk membangkitkan kembali jiwa nasionalismenya. Para “bangsawan” muncul di panggung-panggung hiburan bak suhu menuntun santrinya memaknai kitab-kitab suci. Berbagai kegiatan bernafaskan merah-putih terselenggara dengan agenda masing-masing. Sang Prabu menerbitkan kata mutiara sebagai wasiat yang harus dipatuhi. Adipati memasang sayembara bertema “Cintailah Produk dalam negeri”, tak mau kalah dari Prabu, sang putri mengajak kaumnya membawa simbol-simbol kebangsaan dengan membentuk formasi “28”. Di sini sebenarnya bisa terlihat bahwa ijtihat yang dilakukan para pemimpin hanya mengarah pada tampilan luar, seremonial, tebar iklan, bagi-bagi janji tanpa menyentuh esensi dari makna sesungguhnya. Jika bangsa Indonesia telah dikalahkan dengan sejarahnya kenapa harus ditambah dengan mengajarkan matematika?Bukankah matematika mengajarkan manusia “saya beli, kamu memberi”.
*Penulis Adalah Kader PMII Cab. Ciputat. Tercatat Sebagai Mahasiswa Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta
Powered by !JoomlaComment 3.26
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved." |

