gototopgototop
Home » Buletin Local Wisdom » KH. Munasir Ali dalam Bingkai NU
 
KH. Munasir Ali dalam Bingkai NU
Ditulis oleh A. Musthofa Asrori   
Sabtu, 07 Maret 2009 18:10

 

TOKOH DAN PEMIKIRAN

KH Munasir AliKetika memberikan sambutan pada Muktamar NU ke-29 di Pesantren Cipasung Singaparna Tasikmalaya Jawa Barat (1994), Kiai Munasir mengatakan bahwa dirinya betul-betul orang yang “tak tahu diri”, sebab di usia yang ke-70 masih berambisi menjadi Ketua Panitia Muktamar, yang semestinya itu bagian anak muda. “Karena ambisi saya itu maka proses regenerasi menjadi tersumbat. Padahal sudah selayaknya orang setua saya ini mengundurkan diri dari jabatan apapun dan menyerahkan pada yang muda karena lebih energik dan lebih berpengalaman, sementara saya ini sudah ketinggalan zaman.”

Sambutan Kiai Munasir itu sontak mendapat aplaus panjang dari muktamirin, sebab hadirin tahu bahwa beliua sedang menyindir Presiden Soeharto yang pada saat itu hadir. Kehadiran Soeharto dalam muktamar tersebut sebagai usaha untuk mengintervensi NU dengan ‘mendongkel’ kepemimpinan Abdurrahman Wahid, serta memberikan opsi terhadap tokoh lain yang berasal darinya. Tentu saja prakarsa itu ditentang keras oleh mayoritas Nahdliyyin, bukan karena Gus Dur-nya tetapi demi kemandirian sebagaimana diamanatkan oleh khittah.

Pidato Kiai Munasir itu tampaknya merupakan kelanjutan upaya NU untuk menolak tunduk pada rezim otoriter yang  pada muktamar sebelumnya di Pesantren Krapyak Yogyakarta 1989, ketika Soeharto mulai hendak menundukkan organisasi ini ke dalam korporasi Orde Baru. Tetapi dengan gagah Kiai Ahmad Shiddiq dalam khutbah iftitah-nya mengatakan kepada Soeharto yang ada di depannya, bahwa NU bukan taksi yang bisa disewa kemana-mana, melainkan ibarat sebuah kereta api yang sudah jelas rutenya, dan memiliki rel yang tidak bisa dibelokkan menurut kemauan penumpangnya dan  rel NU adalah khittah 1926 yang di dalamnya tertuang jelas akidah dan prinsip yang dipegangi.

Kiai Munasir yang lahir pada 2 Maret 1919, memiliki keteguhan moral dan integritas pribadi yang tinggi, semuanya itu tidak dimiliki secara instan, melainkan terlatih melalui pengalaman panjang sejak masa kanak-kanak. Tatkala masih remaja beliau juga telah menghadapi diskriminasi Belanda, yakni tidak diperkenankannya masuk sekolah (MULO) meskipun telah lulus ujian. Dengan alasan bukan dari golongan priyanyi atau bangsawan.

Melihat kenyataan yang diskriminatif itu ia oleh orang tuanya dikirim ke pesantren, sebuah pendidikan keagamaan yang memiliki komitmen kerakyatan. Dengan adanya pendidikan murah ini hampir seluruh rakyat mampu memperoleh pendidikan. Bahkan Munasir kecil juga menjadi santri kelana, yang selalu pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi.

Walaupun sudah jauh dari jangkauan kolonial, karena telah hidup di pesantren di daerah pedalaman yang masih bebas, tetapi tangan-tangan penjajah masih menjamahnya. Suatu saat ketika dia sedang menikmati pemandangan pantai utara Rembang, tiba-tiba ia ditempeleng segerombolan konvoi tentara Belanda yang sedang lewat. Berbagai ketidakadilan itulah yang menjadikan renungan tersendiri bagi dirinya dan timbul keinginan mencari solusi bagaimana melenyapkannya. Karena itu ia belajar dengan keras  tidak hanya ilmu agama, melainkan pengetahuan umum termasuk juga ilmu kanuragan.   

Tidak hanya rajin tetapi santri yang berperawakan kecil ini memang tergolong santri yang cerdas. Selain menguasasi disiplin keilmuan agama dan pengetahuan umum, juga menguasai bahasa Arab dan Belanda, yang merupakan kunci pengetahuan saat itu. Karenanya ketika nyantri di Tebuireng Jombang ia direkrut oleh KH A. Wahid Hasyim sebagai kader inti yang tergabung dalam Madrasah Nidzomiyah, hanya beberapa santri terpilih yang masuk dalam kategori ini. Saat itulah Munasir berkenalan langsung dengan organisasi NU, yang kemudian diperjuangkan hingga akhir hayatnya dengan penuh ketegaran dan kesabaran.

Berbeda dengan belajar di sekolah Belanda paling akan menjadi ambtenaar (prajurit), tetapi masuk ke pesantren bagi Munasir memperoleh multi faedah. Pertama, jelas untuk mendalami berbagai disiplin keilmuan, kedua, sebagai tempat menempa moralitas dan kepribadian, dengan kyai sebagai teladannya ketika menjalin networking (jaringan) pergerakan. Sebab melalui pesantren itulah Munasir berkenalan dengan berbagai tokoh lain, yang kemudian menjadi mitra perjuangannya.

Berkecamuknya revolusi mendorong Munasir muda memasuki dinas kemiliteran atau ketentaraan. Pertama ia mengikuti latihan lasykar Hisbullah di Cibarusah, setelah itu kembali ke kampung halamannya di Mojokerto untuk kemudian membentuk kesatuan Hisbullah. Di daerah itu pula akhirnya ia diangkat sebagai komandan Batalyon Condromowo yang lebih dikenal dengan Batalyon Munasir. Dari situlah karir militernya makin menanjak hingga memperoleh pangkat mayor. Sebuah karir yang waktu itu sudah sangat tinggi.

Bagaimanapun keterlibatan Munasir dalam dunia ketentaraan bukan untuk mendapatkan status dan kepangkatan, melainkan murni untuk berjuang menegakkan keadilan. Makanya ketika revolusi sudah usai, sekitar tahun 1953  ia segera mengajukan surat pengunduran diri dari kemiliteran agar bisa berkiprah di NU lebih intensif. Tetapi permohonan itu ditolak oleh Jenderal Abdul Haris Nasution selaku Panglima Angkatan Bersenjata, karena pemikirannya masih dibutuhkan. Baru pada 1958 permohonan itu dikabulkan. Tetapi justru bukan kebebasan yang ia peroleh, tetapi malah setumpuk tugas baru telah menunggu. Yaitu jabatan pertama sebagai Sek-jen Legium Veteran RI (LVRI).

Comments
Add New Search
Kyai Ali yang Berjiwa Besar
A Musthofa Asrori (114.59.209.xxx) 2009-12-13 19:31:43

Kebayang ga sich... Pidato Kyai Ali di hadapan Presiden Soeharto waktu itu.
Wuih... bener2 Kyai pemberani ya bliau.
KH. Munasir Ali dalam Bingkai NU
khoirul Anam (125.164.74.xxx) 2010-03-14 03:33:23

ASS,

Salam Perjuangan Kyai Sepuh

perjuanganmu akan menjadi teladan kami bagi
yang muda yang masih (bau kencur)untuk melawan terhadap penguasa yang dholim dan
penindas.Amin

Wasalam Khoirul Anam
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Judul:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
Home | Chat Room | Invite your friends | Twitter | Webmail | Mobile Version
__________________________
PMII Komfeis Blog Ahmad Makki UIN Jakarta Watch
http://everythingaboutcancers.blogspot.com/ http://cancer-ology.blogspot.com/ http://everythingcancers.blogspot.com/ http://studyofcancers.blogspot.com/ http://studyforcancer.blogspot.com/ http://studyforcancers.blogspot.com/ http://cancerallinone.blogspot.com/ http://answer-cancer.blogspot.com/ http://everything-cancer.blogspot.com/ http://everything-cancers.blogspot.com/
Copyright © 2008 PMII Cabang Ciputat, All Rights Reserved. Developed by Arthaloka