|
Ditulis oleh Arlian Buana Chrissandi
|
|
Indonesia, sebagai sebuah entitas kebangsaan dan negara adalah proyek besar sejarah yang dinamis. Proyek ini tak kan pernah selesai, akan tetapi semua mimpi besarnya harus terus-menerus diwujudkan di setiap masa. Setiap hal yang diamanatkan secara gamblang dalam undang-undang, seharusnya terealisasi dengan terang. Kenyataan memang tidak selalu semanis harapan. Cita-cita kemerdekaan Indonesia tertulis dengan tinta emas di atas kertas, tidak mudah diterjemahkan di lapangan. Hampir setiap hari, koran-koran mengangkat potret buramnya. Taufik Ismail mengekspresikannya dengan puisi “Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia”, dan masing-masing kita mungkin punya concern berbeda mengenai negeri ini. Akan tetapi, seringkali muara keprihatinan kita sama: soal ekonomi , masalah kesejahteraan, dan perihal kemiskinan.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Kamal Fuadi
|
|
Senin, 02 Agustus 2010 11:42 |
*Meraih Juara Pertama dalam Lomba Menulis untuk Mahasiswa Se-Jabodetabek yang diselenggarakan oleh Yayasan Mitra Netra dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) serta didukung oleh DPP Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), The International Council of Education for People with Visual Impairment (ICEVI) dan The Nippon Foundation (TNF)
Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang memiliki komitmen tinggi dalam pendidikan. Komitmen tersebut dibuktikan dengan pencantuman upaya pencerdasan bangsa dalam konstitusi tertinggi negara. Sebagai manifestasi komitmen, pemerintah menyelenggarakan pendidikan untuk semua warga dari mulai jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.
Pemerintah mengupayakan penyelenggaraan pendidikan agar dapat berjalan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa. Dalam kerangka tersebut, pemerintah...
|
|
Selanjutnya...
|
|
Ditulis oleh Arlian Buana Chrissandi
|
 11 tahun sudah Student Government (SG) menghidupi hiruk-pikuk kemahasiswaan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dengan sistem ini, UIN Jakarta seringkali digadang-gadang sebagai miniatur politik Indonesia. Ibarat sebuah negara, SG mengalami kompleksitas dinamika, pun problematika. SG mengidealkan pemerintahan dari, oleh dan untuk mahasiswa. Mahasiswa diakui kedaulatannya untuk menentukan nasibnya sendiri (self-determination), bukan oleh Rektorat, Dekanat, atau dosen-dosen, meskipun sangat meniscayakan kerjasama (boleh baca; arahan dan bantuan dari) dengan birokrasi kampus. Mahasiswa sebagai ‘demos’, -pemegang mandat tertinggi- memiliki hak-hak sekaligus kewajiban dalam (pembelajaran) pembangunan demokrasi di kampus ini. SG yang telah melembaga, selayaknya ‘dipedulikan’ mahasiswa sebagai elemen utama. Koreksi dan perbaikan musti terus dilakukan, dengan otokritik mahasiswa atau hirau terhadap kritik dan saran dari luar.
|
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|
|
Halaman 1 dari 21 |